Blogroll

Kamis, 06 Desember 2012

KRITIKAN KEPADA PENGKRITIK

oleh Fioni Rezpector pada 5 November 2012 pukul 8:08 ·



Kemajuan Indonesia berada di tangan-tangan pemuda sekarang. Tentang cita-cita bangsa dan Negara sampai sekarang pun belum terwujud sepenuhnya. Masih banyak bangsa yang termarjinalkan sehingga tidak diakui eksistensinya. Status sosial telah menjadi sekat-sekat yang dewasa ini semakin menjadi. Jika bunyi sila ketiga adalah persatuan Indonesia,mana realisasinya dalam kehidupan sosial? Pada kenyataannya terjadi pertempuran, permusuhan karena perbedaan ideologi, ras atau golongan. Harusnya sejak dini sudah mulai melakukan pembangunan moral. Apa gunanya mengkritik para birokrasi jika kelakuan kita belum sepenuhnya benar. Misalnya saja, kita sering menuding dan melakukan aksi demo terhadap kasus korupsi sementara kita sering membohongi orang tua dengan alasan ada iuran di kampus padahal uang itu akan kita pergunakan untuk keperluan pribadi kita. Apakah itu bukan korupsi? Padahal tanpa disadari hal-hal yang besar itu timbul karena hal-hal yang kecil. Contoh lagi, kita sebagai bangsa Indonesia sering mengatakan bahwa Indonesia ini Negara yang kumuh, banyak sampah tercecer dijalanan sehingga jika musim hujan tiba sering kali terjadi banjir. Selalu kata Indonesia yang disalahkan padahal yang perlu kita salahkan adalah diri kita sendiri. Jika Negara kita kumuh yang membuat kumuh tangan siapa? Seandainya setiap individu punya kesadaran akan membuang sampah pada tempatnya dalam jangka beberapa bulan Indonesia akan menjadi Negara yang bersih.Berkacalah sebelum melontarkan masukan atau kritikan yang pada akhirnya hanya akan saling menyalahkan satu sama lain. Jangan lagi kita salahkan Indonesia karena baik buruknya Indonesia ada ditangan kita sendiri. Apa gunanya pendidikan formal jika moral kita masih saja sama atau malah tambah rusak. Bagaimana jadinya Indonesia kedepan? Kalau kita hanya bisa mengkritik, menuding kesalahan dan bangga karena menang dalam perdebatan tanpa adanya realisasi yang jelas. Sekedar teori dan omong kosong. Pemimpin itu harus berlatih sejak dini. Memimpin dirinya saja kerepotan apalagi memimpin orang lain? Untuk memimpin dirinya saja dalam rangka menahan hawa nafsunya sendiri sering terjadi kewalahan apalagi mau jadi pemimpin orang lain? Seorang pemimpin tidak hanya cerdas dalam bidang IQ (Intelligence Quotient) saja namun juga harus cerdas dalam bidang EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Spiritual Quotient) . Ketiganya harus berimbang. Peradaban itu tidak terjadi secara instan tapi perlahan dan butuh perombakan moral serta kesadaran. Moral individu harus  sudah tertata sejak dini. Sejak dalam kandungan Ibunya. Mendidiknya dari usia 0 hingga ia menemukan jati dirinya dengan praktik sosial secara langsung. Bukan hanya sekedar formalitas belajar untuk mengejar nilai karena hafal teorinya tanpa adanya kemanfaatan ilmu yang dapat diapresiasikan dalam realita. Kita mengerti teori dan paham kemudian kita praktekkan secara langsung. Nasib Indonesia ada ditangan kita, untuk menuju pada bendera kejayaan, kita harus berlatih sejak dini yang mampu memimpin diri kita sendiri hingga kita pantas menjadi pemimpin bagi orang lain. Jangan hanya mengkritik, jangan hanya menuding, namun bergeraklah untuk menuju pada sebuah peradaban.

0 komentar:

Poskan Komentar